Contoh dan Referensi Usaha

November 17, 2008


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Tahoma; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} @font-face {font-family:”color\:black\;”; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:”Times New Roman”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin-top:12.0pt; margin-right:0cm; margin-bottom:3.0pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:16.0pt; font-family:Arial; mso-font-kerning:16.0pt; font-weight:bold;} h2 {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; mso-outline-level:2; font-size:18.0pt; font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} p.MsoPlainText, li.MsoPlainText, div.MsoPlainText {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.post-info, li.post-info, div.post-info {mso-style-name:post-info; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.st1 {mso-style-name:st1;} span.ttlctnmidle2 {mso-style-name:ttlctnmidle2;} span.ft21 {mso-style-name:ft21;} span.ft11 {mso-style-name:ft11;} span.ft41 {mso-style-name:ft41;} span.em3 {mso-style-name:em3;} span.ft51 {mso-style-name:ft51;} p.recipetitle, li.recipetitle, div.recipetitle {mso-style-name:recipetitle; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.content, li.content, div.content {mso-style-name:content; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.content1 {mso-style-name:content1;} p.p1, li.p1, div.p1 {mso-style-name:p1; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:842.0pt 21.0cm; mso-page-orientation:landscape; margin:2.0cm 2.0cm 2.0cm 2.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-columns:2 not-even 346.3pt 36.0pt 346.3pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:118182180; mso-list-template-ids:1351777716;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l1 {mso-list-id:401755335; mso-list-template-ids:2068859632;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:676274891; mso-list-template-ids:70784174;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

BUDIDAYA IKAN BELUT

1. SEJARAH SINGKAT

Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat

memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka

memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di

rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut

mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan

menjadi salah satu komoditas ekspor.

2. SENTRA PERIKANAN

Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong,

Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada

di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru

merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai

pos penampungan.

3. JENIS

Klasifikasi belut adalah sebagai berikut:

Kelas : Pisces

Subkelas : Teleostei

Ordo : Synbranchoidae

TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Hal. 2/ 6

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340

Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

Famili : Synbranchidae

Genus : Synbranchus

Species : Synbranchus bengalensis Mc clell (belut rawa); Monopterus

albus Zuieuw (belut sawah); Macrotema caligans Cant (belut

kali/laut)

Jadi jenis belut ada 3 (tiga) macam yaitu belut rawa, belut sawah dan belut

kali/laut. Namun demikian jenis belut yang sering dijumpai adalah jenis belut

sawah.

4. MANFAAT

Manfaat dari budidaya belut adalah:

1) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.

2) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

3) Sebagai obat penambah darah.

5. PERSYARATAN LOKASI

1) Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis

yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran

rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah

hujan tidak ada batasan yang spesifik.

2) Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan

tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.

Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.

3) Suhu udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu berkisar antara

25-31 derajat C.

4) Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan

osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm.

Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut dewasa tidak memilih

kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

1) Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan

antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih

belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan

kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang

masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut

TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Hal. 3/ 6

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340

Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

ukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan

belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.

2) Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya

dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.

3) Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan

(ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut

remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam

belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100

ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya

tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran

3-50 cm.

4) Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan

dasar bak tidak perlu diplester.

5) Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada,

alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan

lainnya.

6) Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk

kandang, sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong

untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun

dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan

ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan

organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan

kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik

+ air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media

tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah.

Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.

6.2. Penyiapan Bibit

1) Menyiapkan Bibit

a. Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang

berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan

masing-masing tahapannya selama 2 bulan.

b) Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit

diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.

c. Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan.

Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm

dan belut jantan berukuran ± 40 cm.

d. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor

pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu

pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut

TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Hal. 4/ 6

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340

Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut

berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk

ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut

dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam

pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut

tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa

diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau

empat bulan.

2) Perlakuan dan Perawatan Bibit

Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih

selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin

agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik

lagi apabila di air yang mengalir.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran

1) Pemupukan

Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang

subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik

utama.

2) Pemberian Pakan

Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat

besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.

3) Pemberian Vaksinasi

4) Pemeliharaan Kolam dan Tambak

Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam

agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

1) Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu

kehidupan belut.

2) Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut

antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air dan

ikan gabus.

TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Hal. 5/ 6

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340

Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

3) Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering

menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak

banyak diserang hama.

7.2. Penyakit

Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh

organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang

berukuran kecil.

8. PANEN

Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :

1) Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.

2) Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi

(besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).

Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan

peralatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing

atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja.

9. PASCAPANEN

Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar,

penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar

belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas yang baik, sehingga

mempunyai jaringan pemasaran yang luas.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

10.1.Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada

tahun 1999 adalah sebagai berikut:

1) Biaya Produksi

a. Pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-

b. Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,- Rp. 225.000,-

c. Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp. 45.000,-

d. Lain-lain Rp. 30.000,-

Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,-

2) Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,- Rp. 750.000,-

TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Keuntungan Rp. 422.000,-

4) Parameter Kelayakan Usaha 2,28

10.2.Gambaran Peluang Agribisnis

Budidaya ikan belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran

mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan

ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka

akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.

11. DAFTAR PUSTAKA

1) Satwono, B. 1999. Budidaya Belut dan Tidar. Penerbit Penebar Swadaya

(Anggota IKAPI). Jakarta.

2) Ronni Hendrik S. 1999. Budidaya Belut. Penerbit Bhratara, Jakarta

12. KONTAK HUBUNGAN

Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;

Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

Jakarta, Maret 2000

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Editor : Kemal Prihatman


BISNIS IKAN PRESTO

Bapak/Ibu sutan muda harahap
Bagaimana kabar Anda hari ini. Semoga sehat dan sukses selalu.

kalau Anda pernah bepergian ke KotaSidoarjo, ada beberapa makanan khas daerah ini. Makanan khastersebut antara lain : Kupang Lontong, Aneka Kerupuk, dan yang
cukup menarik adalah Bandeng Presto. Di Sidoarjo, bandeng presto
yang ukurannya cukup besar, bisa dengan mudah Anda temukan di
sepanjang jalan utama kota

Bagaimana peluang bisnis bandeng presto ini ?

Bapak/Ibu sutan muda harahap,

Peluang bisnis bandeng presto cukup menarik dan mudah untuk
memulainya. Bahan baku bandeng bisa Anda dapatkan dengan mudah.
Proses pembuatannya juga tidak sulit dan tidak lama.

——————–
Resep Bandeng Presto
——————–

Bahan:
1 kg (2 ekor) bandeng segar, buang insang dan isi perutnya
1 sdm ragi tapai, haluskan
2 sdm garam
3 sdm air asam Jawa
10 lembar daun salam
10 cm lengkuas, iris, memarkan
2,5 liter air

Bumbu, haluskan:

14 butir bawang merah
7 siung bawang putih
4 cm jahe
4 cm kunyit
1 cm garam

Cara membuat:

Sayat bagian perut bandeng. Cuci bersih bandeng lalu
tiriskan.Lumuri bandeng dengan ragi dan garam. Diamkan selama 1
jam. Olesi bandeng dengan bumbu halus hingga rata. Taruh bandeng
berbumbu di atas keranjang mesin. Beri daun salam dan
lengkuas.Masak hingga matang. Masak selama sekitar 30 menit. Angkat
dan tiriskan.

——————————

Bapak / Ibu sutan muda harahap

Mesin-mesin untuk usaha bandeng pesto antara lain :

- Mesin / alat pemasak presto. Fungsi mesin ini mengukus bandeng
pada tekanan tinggi, namun terkontrol. Untuk skala industri, kami
menyediakan mesin presto kapasitas 10-50 kg / proses. Lama proses
30-45 menit (kondisional).

Detail mesin, klik http://www.mesinpresto.com

- Mesin pengemas. Fungsi mesin untuk mengemas presto dalam kemasan
plastik. Pengemasan presto, bisa menggunakan kemasan biasa (hand
sealer, pedal sealer atau continuous sealer). Yang lebih bagus
menggunakan mesin vacuum sealer, sehingga presto bisa lebih tahan
lama. Detail vacuum sealer bisa Anda lihat di http://www.mesinpresto.com

—————————-

Demikian, semoga bermanfaat untuk Bapak / Ibu sutan muda harahap

Erdini Enggar, SP
Assistant Director
PT Toko Mesin Maksindo

Telur Asin Aneka Rasa

Bapak/iu yang terhormat, berikut ini artikel yang bertautan dengan telur asin, semoga bermampaat,

“Membuat Telor Asin”

Bahan :
10 Butir Telor Bebek
10 Sdm Garam Dapur
1000 ml Air

Cara Membuat :

1. Bersihkan telor bebek dengan di gosok / disikat hingga bersih pilih telor yang betul-betul bagus.

2. Siapkan Wadah Tupperware untuk menyimpan / memeram telor bebek ( Dengan menggunakan SIngle Deco ).

3. Tuangkan air kedalam wadah Single Deci lalu masukan garam dan aduk rata, sehingga menjadi larutan air garam.

4. Masukan telor bebek yang sudah bersih kedalam larutan tersebut.

5. Tutup rapat wadah, lalu simpan ditempat yang kering.

6. Untuk telor dengan kadar keasinan rendah disimpan 1 minggu saja, untuk keasingan sedang disimpan selama 2 minggu dan bila ingin sampai “Masir” ( kuning telor sampai keluar minyaknya ) disimpan sampai 3 minggu Selanjutnya telor bisa direbus atau di bikin masakan lain


Selamat Mencoba …. !!

Tips :

1. Cara memilih telor yang baik, letakan telor didalam air bila tenggelam berarti bagus.

2. Dengan menggunakan Tupperware membuat telor asin tanpa abu gosok / bubuk batubata dan lebih gampang dan hasilnya … lembut dan lebih uuueeeenakk….

(Arum Wijayanti – Semarang).

Rela Melepas Pekerjaan demi Usaha Telur Asin

Oleh
Saufat Endrawan

Bandung-Heno Taryana adalah orang yang sangat beruntung. Niatnya untuk menekuni usaha hanya coba-coba, tapi pada akhirnya ia menuai sukses. Ia mampu menjadi pengusaha telur asin yang berhasil di Bandung, yang notabene bukan sentra produsen telur asin.

Bakat wirausaha yang diwarisi dari orang tuanya begitu kuat. Pekerjaannya sebagai staf produksi di pabrik tekstil di Bandung ditinggalkannya demi melanjutkan usaha telur asin yang dirintis orang tuanya. Tekadnya terutama ingin memajukan usaha keluarga, di samping ia merasa tidak cukup bila hanya mengandalkan ijazah SMA-nya saja untuk membangun masa depan keluarganya.
Tepatnya, pada tahun 1997 ia mulai menghidupkan kembali usaha telur asin milik orang tuanya. Usaha itu konon nyaris tidak beroperasi karena sulitnya mendapatkan pinjaman, juga sulitnya mendapat telur bebek dari peternak serta bahan dasar lainnya.
Heno memulai usahanya dengan modal pesangon dari perusahaan sebesar Rp 200.000. Awalnya, dengan kemampuan yang ada, Heno hanya sanggup memproduksi telur asin sebanyak 30 butir. Namun, berkat keuletan dan ketabahannya untuk mengembangkan usaha, akhirnya per hari Heno mampu memproduksi telur asin sebanyak 1.000 hingga 1.500 butir, tergantung ketersediaan telur bebek di pihak para peternak.
Dari lima bersaudara, hanya Heno yang meneruskan usaha keluarganya. Ini karena sejak kecil, dialah yang selalu mendampingi dan membantu kedua orang tuanya dalam proses pembuatan dan pemasaran telur asin ke berbagai pasar yang ada di Bandung. Heno kini memiliki seorang anak laki-laki, Muiz Ilma Tarmizi (4,5) dari hasil pernikahannya dengan Yanti Hanifah (25).
Saat dijumpai SH, Jumat (4/1) siang, di kediamannya yang setengah bangunannya dijadikan tempat untuk memproduksi telur asin di Jalan Sekar Wangi RT 01/01 Kp Sekar Wangi Desa Sekarwangi, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, Heno memaparkan awal upayanya merintis kembali usaha telur asin.
Upayanya merintis kembali usaha yang berlabel Telor Asin Lancar, yang telah ditinggalkan kedua orang tuanya itu, antara lain juga karena orang tuanya telah berusia lanjut. Produksi awalnya hanya 10 hingga 30 butir telur saja per hari. Ia menjualnya hanya kepada warung-warung terdekat di rumahnya. Kemudian, karena jumlah permintaan setiap harinya semakin besar, produksi terus ditingkatkan hingga akhirnya kini mencapai 1.000 hingga 1.500 butir per hari.
Telur asin yang diproduksinya kini untuk memenuhi permintaan dari pasar-pasar besar di Kota Bandung dan sekitarnya, seperti Pasar Dulatif, Andr, Ciroyom, serta beberapa pasar yang ada di kabupaten. Malahan, ada pula beberapa langganan yang memesan khusus untuk dibawa ke luar negeri seperti ke Australia. Mereka rutin membawa telur asin produksinya, sebab selain pulen karena berminyak di bagian kuningnya, juga tidak terlalu asin. Telur asin yang diproduksinya bisa bertahan hingga 15 hari. Hal ini karena cara pengelolaannya harus apik.
“Telur asin kami bisa bertahan lama hingga 15 hari, karena kami mencari kualitas telur bebek yang bagus dari para pengangon yang selalu mencari tempat di mana ada sawah yang sedang dipanen, di situlah bebek-bebek mereka disebar. Selain itu, kualitas garam dan abu juga harus baik, agar hasilnya menjadi telur asin yang super,” kata Heno.
Heno kini telah mampu mempekerjakan enam karyawan, yang berasal dari lingkungan keluarganya serta dua tenaga lepas yang diambil dari tetangga terdekatnya. Sedangkan label yang ditempelkan di telur asin produksinya, namanya pemberian dari almarhumah ibunya. Menurut Heno, ibunya memberikan label “Telor Asin Lancar” pada telurnya dengan harapan produksi telur asin anaknya bisa terus lancar hingga turun-temurun.
Heno menjelaskan keuntungan dari memproduksi telur asin tidak terlalu besar, karena dari telur bebek mentah yang dibelinya per butir seharga Rp 650 untuk ukuran kecil dan Rp 700 untuk ukuran besar per butirnya. Rata-rata per butirnya hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp 300, keuntungan tersebut belum dipotong biaya produksi dan gaji karyawan.
Heno mengakui, untuk ukuran telur asin berukuran besar per butirnya dijual ke pelanggan Rp 1.000, untuk ukuran kecil Rp 900. Saat ini usahanya sudah mulai keteteran untuk mendapatkan telur bebek mentah, abu dan garam, karena harganya kian hari kian melonjak. Selain itu, untuk mengukus telur asin yang sudah di-peuyeum (diperam) selama 9-12 hari dengan dibalut adonan abu mengandung garam, sudah tidak lagi menggunakan minyak tanah, tapi menggunakan kayu bakar. “Jika masih menggunakan minyak tanah, biaya operasional kami habis tersedot. Sedangkan harga telur asin di pasaran sulit dinaikkan karena persaingannya sangat ketat,” tutur dia.
Untuk membuat telur asin berkualitas super, diawali dengan melakukan ketrek atau memilih telur yang bagus. Untuk produksinya, dengan cara mendapatkan telur bebek, ia mengejar di mana terdapat pengangon bebek biasanya, mencari tempat-tempat di mana ada daearah yang sedang panen. Terkadang, untuk mendapatkan telor tersebut kami sudah mengontrak pengangon dengan membayar uang terlebih dahulu. Misanya untuk 1.000 telur kami membayar uang dimuka, sehari kemudian dan selanjutnya kami mengejar penganggon tersebut. Karena telur bebek hasil anggon lebih baik kualitasnya daripada telur bebek ternak.
Untuk membuat telur asin sebanyak 1.500 butir dibutuhkan bahan dasarnya 30 kg abu dari pembakaran kulit padi, serta 10 kg garam kasar. Abu dan garam ditambah air diaduk hingga menjadi seperti adonan tanah liat. Setelah itu satu per satu telur dibungkus adonan, kemudian di simpan atau diperam selama 9 hingga 12 hari. Satelah selesai di-peuyeum kemudia dicuci hingga bersih, dan direbus hingga empat jam. Proses pembuatan tersebut rata-rata sekitar 10 persen hasilnya tidak sempurna karena mengalami pecah dan retak-retak. Tapi, telur asin yang retak masih saja bisa dijual dengan harga yang mutah atau ditukar dengan telur bebek yang mentah atau barter dengan bahan dasar pembuatan telur asin seperti garam di pasar.
Dari hasil wirausaha yang digelutinya selama 10 tahun ini, selain telah mampu membeli tanah dan bangunan yang luasnya tujuh tumbak dan sekarang ini ditempati untuk rumah tinggal dan perusahannya. Selain itu, kini juga telah mampu membeli beberapa unit kendaran roda dua untuk membawa telur asin produksinya ke pasar. Dia juga telah memeliki sebanyak 170 ekor bebek yang pemeliharaannya dipercayakan kepada pengangon bebek. “Saya beli bebek agar sewaktu-waktu bila telor dari pengangon sulit didapat, masih ada cadangan telor dara bebek peliharaan saya,” cetus dia.
Kini yang dibutuhkan oleh Heno agar usahanya tetap berjalan adalah suntikan dana, baik dari pemerintah maupun dari perbankan. Sebab, jika tidak ada suntikan modal maka usahanya berjalan apa adanya. Modal yang dimiliknya terkadang tidak berputar karena mengendap di para pengangon. Jika bebek-bebeknya tidak bertelur akibat tidak ada sawah yang panen, uang tersebut mengendap di mereka.
Pernah, tiga tahun yang lalu ia mendapatkan suntikan dana Rp 2 juta dari salah satu perusahaan obat-obatan, namun semakin berkembangnya zaman, modal pun harus ditambah. Selain itu, ia juga pernah mendapatkan bantuan berbentuk peralatan dari Pemkab Bandung berupa teknologi tepat guna (TTG), tempat untuk pengasinan dari bahan dasar stainlessteel yang menampung 1.000 butir telur.
Namun hasilnya tidak bagus. Sebab, alat itu membuat telur-telur retak dan daya serap garamnya tidak maksimal. Karena, sistemnya telur direbus dengan air garam, sedangkan cara yang baik untuk membuat telur asin adalah dengan cara konvensional, bukan dengan cara modern. “Hingga kini alatnya tidak kami pakai dan masih tersimpan di gudang,” jelas Heno. n

1. Analisis Keuntungan Bersih Usahatani (NP atau Net Profit), yaitu :

NP = Total Penerimaan (TR) – Total Biaya (TC)

= (Q . Pq) – (TFC+TVC)

di mana :

Q : Total produksi

Pq : Harga per satuan produk

TFC : Total Biaya Tetap

TVC : Total Biaya Variabel

2. Titik impas pulang modal (BEP atau break event point). BEP merupakan titik impas,

yaitu kondisi usaha saat itu tidak mendapat keuntungan maupun kerugian:

BEP Volume Produksi = Total Biaya (TC) / Pq

BEP Harga Produksi = Total Biaya (TC) / Q

di mana :

Pq : Harga per satuan produk (Rp/kg)

Q : Total produksi (kg)

TC : Total Biaya (Rp)

3. Nilai efisiensi penggunaan modal (ROI atau return on investment).

ROI dihitung untuk mengetahui keuntungan dari modal yang telah digunakan, yaitu:

ROI = Keuntungan (NP) / Modal (TC ) x 100%

4. Nilai kelayakan usahatani (B/C ratio atau benefit/cost ratio). B/C ratio merupakan angka

perbandingan hasil penjualan dengan total biaya produksi, sekaligus menunjukkan tingkat efisiensi

pendapatan suatu usahatani. Semakin besar B/C ratio (>1) maka semakin menguntungkan

usahatani tersebut

B/C ratio = Total Penerimaan (TR)/Total Biaya (TC)

= (Q.Pq) / (TFC+TVC)

Mudah-mudahan dengan memakai analisa ratio ini usaha dapat di jalankan dan dikontrol baik.

BISNIS CUP MINUMAN KECIL

Bapak / Ibu sutan muda harahap

Semoga Anda sehat dan sukses selalu

Salah satu mesin usaha kecil menengah yang cukup banyak peminatnya
adalah mesin cup sealer.

Mesin cup sealer adalah mesin yang bisa Anda gunakan untuk menutup
gelas plastik. Prinsip kerja dari mesin ini adalah melekatkan
lembaran plastik pada ujung gelas plastik dengan pemanasan. Mesin
ini biasanya digunakan untuk usaha minuman yang dikemas dalam
kemasan gelas plastik

Mesin cup sealer ada beberapa tipe, antara lain :

1. Manual
2. Semi otomatis
3. Full otomatis

Untuk efektivitas dan efisiensi usaha, sebagaian besar pengusaha
minuman menggunakan jenis mesin semi otomatis dan full otomatis.

Bagi pemula, biasanya terlebih dahulu memakai mesin semi otomatis
yang memiliki kemampuan sekitar 500 cup / jam. Dan setelah usahanya
maju, penggunaan mesin full otomatis menjadi wajib (kecepatan 2000
- 6000 / jam)

———————————————
Usaha-Usaha Yang Menggunakan Mesin Cup Sealer
———————————————

Bapak / Ibusutan muda harahap

Pada dasarnya, mesin cup sealer ini bisa Anda gunakan untuk produk
apa saja yang dikemas dalam gelas plastik. Produk-produk banyak
menggunakan mesin cup sealer adalah produk cair dan produk makanan.

Beberapa usaha yang menggunakan mesin cup sealer antara lain :

- usaha minuman kemasan
- usaha sari buah
- usaha jelly
- usaha minuman suplemen
- dll

Harga mesin semiotomatis mulai dari 2 jutaan, sedang yang full
otomatis mulai dari 40 jutaan.

Mari Masak Bebek

Hidangan yang menggunakan bahan dasar daging bebek belum sepopuler daging ayam, meski kelezatan bebek peking atau bebek betutu sudah sangat dikenal. Sebenarnya daging bebek yang juga masuk dalam keluarga unggas memiliki beberapa kelebihan dibanding daging sapi. Di antaranya dagingnya lebih kering dan lebih mudah dicerna karena serabutnya lebih pendek, meski jika dibandingkan dengan daging ayam, daging bebek memang lebih sukar dicerna karena mengandung lebih banyak lemak.

Nah untuk membantu Anda memilih daging bebek yang baik, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Sebisa mungkin memilih bebek yang masih muda agar dagingnya tidak keras
  2. Sebaiknya memilih daging bebek segar yang kulitnya berwarna putih
  3. Hindari membeli daging bebek yang dadanya kurang berisi.
  4. Pilihlah bebek yang kakinya lunak dan masih mudah dilipat.
  5. Jangan membeli bebk yang kulit atau dagingnya berwarna kebiru-biruan atau kehijauan. Apalagi kalau dagingnya sudah berbau kurang sedap.
  6. Kalau membeli bebek yang sudah dibekukan, pilihlah yang warna kulitnya tetap baik dan jernih.
  7. Agar tidak mudah rusak, segera masukan daging bebek yang tidak dipakai ke dalam freezer.

Apa saja yang harus diperhatikan dalam pengolahan?

  1. Bagaimana menghilangkan bau amis bebek ? Cuci daging dengan bersih, jangan hanya dicelupkan ke dalam air. Kemudian buang tunggir bebek sebelum diolah.
  2. Bau amis bebek juga bisa dihu\ilangkan dengan cara merebusnya dengan tumisan kunit dan jahe.
  3. Agar daging bebek empuk, masak di dalam panci tertutup
  4. Daging bebek muda sangat tepat untuk dipanggang, digoreng atau dibakar. Sedangkan daging bebek tua sebaiknya dijadikan hidangan yang membutuhkan pengolahan, seperti direbus atau dikukus.
  5. Bagaimana membuat kulit bebek panggang menjadi garing dan renyah? Pakai campuran madu dengan tiga bagian air jeruk manis yang telah diaduk menjadi satu. Oleskan pada bebek yang sedang di panggang sesering mungkin. maya/berbagai sumbeR

Mengempukkan daging bebek

Ide cerita kali ini datang ketika saya sedang memuji masakan ibu dari teman saya. Beliau hari itu memasak gulai bebek a la Betawi. Daging bebeknya sangat empuk, sampai nyaris lepas dari tulangnya. Saya sangat kagum dengan keempukan daging bebek yang biasanya alot ini, sehingga saya bertanya, bagaimana cara memasaknya, sampai daging bebeknya bisa empuk begini. Jawabnya: dengan merebus daging sambil memasukkan sendok ke dalam pancinya! Hmm, apa hubungannya sendok dengan daging yang empuk?

Memang, selain secara ilmiah menggunakan panci bertekanan tinggi (presto), ada bermacam-macam cara tradisional mengempukkan daging yang terkadang nampak tidak masuk akal. Selain metode sendok tadi, ada juga yang memasukkan beling atau pecahan gelas ke dalam panci ketika merebus daging, supaya dagingnya empuk. Malahan, di Jawa Tengah, melarutkan beberapa tablet obat sakit kepala Bodrex ke dalam panci adalah teknik mengempukkan daging yang umum. Wah, jangan-jangan semurnya nanti juga bisa menghilangkan sakit kepala!

Tapi, strange as it may seem, it works. Bahkan sendok yang dimasukkan ke panci berhasil mengempukkan daging bebek yang kini sedang saya kunyah. Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Mari kita kaji teknik ini secara kimia. Pertama-tama kita teliti dulu: apa sih yang membuat daging terasa keras atau alot? Daging adalah bahan biologis yang umumnya terdiri dari protein dan lemak. Protein inilah yang merupakan bahan utama dari serat daging, yang jika daging dimasak akan membuat daging menjadi alot. Jadi, secara kimia. apa saja yang bisa memutuskan atau mendegradasi protein daging akan bisa membuat daging menjadi empuk. Lalu bagaimana cara kimia untuk mengempukkan daging? Dengan menggunakan meat tenderizer atau pengempuk daging. Bahan utama pengempuk daging ini adalah sebuah enzim yang bernama papain. Papain secara alamiah berasal dari daun pohon pepaya (Carica papaya).

Dengan demikian, teknik tradisional yang sahih secara kimia dalam mengempukkan daging adalah membungkus daging dengan daun pepaya. Enzim papain bekerja dengan cara memutuskan ikatan peptida dalam protein sehingga serat protein bisa putus. Alhasil, pada saat matang protein tidak bisa membentuk serat sehingga daging akan menjadi empuk. Selain dengan pemutusan ikatan secara kimia, ikatan peptida juga bisa putus (atau istilah kimianya terdegradasi) oleh suhu yang tinggi. Coba saja gigit daging gosong: empuk kan? Tapi pahit, hehe. Jadi, suhunya bukan sekedar tinggi, tetapi daging harus didiamkan pada suhu yang tinggi dengan waktu relatif lama, supaya ikatan protein bisa putus. Karena udara bukan merupakan penghantar panas yang baik, maka sebagai medium pemanas digunakan air. Semakin tinggi suhu air yang digunakan, semakin cepat pula daging menjadi empuk. Sayangnya, suhu didih air hanya 100oC. Jadi, kalau modalnya hanya air, tidak mungkin daging bebek bisa seempuk yang saya santap waktu itu. Lalu bagaimana caranya? Jawabnya: dengan menaikkan titik didih air.

Bagaimana caranya? Proses air mendidih, dengan gelembung udara yang muncul dari dalam air, sebenarnya merupakan suatu kondisi dimana tekanan uap air sama dengan tekanan udara. Jadi, kalau sebelumnya air dan udara ’terpisah’ oleh permukaan air, karena tekanannya sama maka udara bisa ’masuk’ ke air, menghasilkan gelembung tadi. Air juga ’masuk’ ke udara dengan cara menguap. Nah, titik pada saat air mendidih dipengaruhi oleh berapa tekanan pada ruangan tempat air berada. Makin tinggi tekanannya, makin tinggi pula titik didih air. Contohnya adalah pada panci presto – teknik yang juga lazim digunakan dalam mengempukkan daging. Panci presto biasanya menghasilkan tekanan sebesar 15 psi atau 1.034 bar. Nah, dalam keadaan ini, air mendidih pada suhu 125oC, 25 derajat lebih tinggi dari biasanya. Alhasil, tidak hanya daging, tulang saja bisa jadi empuk!

Mari kita kembali ke teknik memasukkan sendok ke dalam panci. Apa hubungannya dengan titik didih? Disini, tujuannya bukan untuk menaikkan titik didih air, melainkan mengoptimalkan panas yang dihasilkan di dalam air. Meletakkan logam, dalam hal ini sendok, ke dalam air yang mendidih memiliki dua efek. Yang pertama, karena logam adalah penghantar panas yang baik, distribusi suhu di dalam air menjadi lebih baik. Di dalam suatu panci, jika belum mendidih, maka tidak semua suhu air sama. Suhu paling tinggi adalah di dinding panci yang langsung berdekatan dengan sumber panas. Dengan adanya sendok, maka air di tengah panci juga bisa menjadi panas, karena suhu sendok akan sama dengan suhu dinding panci. Dengan demikian, aliran panas ke daging menjadi lebih lancar.

Yang kedua, adalah mencegah efek bumping. Bumping adalah istilah kimia untuk cairan yang menggelegak, atau banyak sekali gelembungnya waktu mendidih. Ingat, udara bukan penghantar panas yang baik! Jadi, juga dalam panci daging ada banyak gelembung udara, pemanasa daging menjadi kurang optimal. Dengan meletakkan benda padat, bisa berupa logam (sendok) atau gelas (beling), gelembung akan muncul dengan ukuran kecil dan terkonsentrasi hanya pada benda padat tersebut. Alhasil, kontak antara air dengan daging bisa lebih optimal, sehingga proses pengempukkan berjalan dengan lebih baik. Oooh, begitu toh!

Lalu, bodrex-nya bagaimana? Kalau Anda menantikan teori canggih mengenai reaksi antara parasetamol dan protein, Anda bakal kecewa, karena itu bukan faktor utama. Ada satu lagi teknik menaikkan titik didih air, yakni dengan melarutkan suatu zat di dalam air. Rumusnya adalah sebagai berikut:

ΔT BP = i x kb x m

Dimana ΔT BP adalah kenaikan titik didih, i adalah faktor Van’t Hoff, m adalah molalitas (suatu besaran yang menyatakan kepekatan larutan), dan kb adalah konstanta ebulioskopik (suatu konstanta yang bergantung pada jenis pelarut). Jadi, jika kita menambahkan zat terlarut (dalam hal ini, bodrex) ke dalam panci, maka titik didih air akan naik. Hal yang sama juga terjadi ketika bumbu-bumbu seperti merica, garam, dan santan ditambahkan ke dalam air, sehingga kalau Anda perhatikan, titik didih soto ayam lebih tinggi daripada air biasa. Bedanya, bodrex tidak meninggalkan rasa, dan zat-zat aktifnya akan kehilangan efeknya karena terdegradasi oleh suhu tinggi. Jangan kuatir, semur daging yang dihasilkan hanya akan empuk, tapi tidak bisa menyembuhkan sakit kepala, hehe.

Menghilangkan Rasa Amis dan Alot

Selain peluang yang masih terbuka, bisnis warung bebek menghadapi tantangan untuk menghilangkan kesan daging bebek alot dan amis. Dengan teknik pengolahan yang tepat, daging bebek pun bisa tampil menjadi sajian yang empuk dengan cita rasa menggoda. Syukurlah, citra daging alot dan amis sudah mulai berkurang di beberapa warung tenda dan rumah-rumah makan yang menyajikan menu bebek.

Beberapa rumah makan bebek memiliki kiat tersendiri agar bisa mendapatkan olahan bebek yang prima. Usaha yang dilakukan meliputi dari pemilihan bahan baku, tatacara pengolahan, hingga bumbunya.

Sugeng Widodo misalnya, memilih bebek yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Soalnya, menurut Kardjono, “Bebek yang terlalu tua dagingnya sangat alot, sementara yang terlalu muda, dagingnya sedikit.

Para penyaji bebek itu umumnya biasa mendapatkan bebek yang sudah dibuang bulunya dari pemasok. Daging bebek ini tidak langsung diolah tapi melalui tahapan lain, yaitu pemeriksaan sisa bulu yang mungkin tidak tercabut. “Ini penting agar pengunjung tidak kecewa atau merasa jijik melihat bulu bebek yang masih ada di daging tersebut,” terang Kardjono. Setelah tak ada lagi sisa bulu yang tertinggal, barulah bebek dipotong menjadi 4 bagian, lalu bebek pun siap diolah. Satu hal lagi, saat mengolah selama sekitar 3 jam itu, gunakanlah api kecil. “Dengan api kecil, bumbu lebih meresap, daging bebeknya pun menjadi lebih empuk,” alasan Kardjono.

Sedangkan menurut Sugeng Widodo, bebek yang siap diolah ini harus dimasak selama 5 jam dengan api sedang supaya bumbunya lebih meresap. Pas digoreng bebek akan terasa empuk dan gurih.

Kiat Rouf Estianda lain lagi. Agar daging empuk dan tidak amis, bebek diolah dalam kuali tanah liat. Dalihnya, supaya matangnya bersamaan dan bumbunya meresap.

Agus, Rauf, Kardjono, Santoso, pun menyajikan bervariasi menu seperti bebek kremes, nasi bebek kebuli, bebek sambel hijau, tongseng bebek, gulai bebek cabai hijau, rendang bebek dan lain sebagainya.

Nasi “Bego” Pak Joko Putra

Menu daging bebek biasanya dicap alot dan amis. Namun si empunya warung pinggir jalan ini mampu menyajikan bebek yang empuk dan bikin ketagihan.

Yadi, pengunjung warung asal Pasarminggu, Jakarta Selatan, mengaku, pada awalnya yang terpikir memang bebek berbau amis. Akan tetapi, setelah mencicipi bebek di warung ini, dia mengaku ketagihan. “Dari sekian banyak warung bebek yang ada di Jakarta, mungkin baru warung Pak Joko Putra yang menjadi favorit saya,” ucapnya mantap.

Stigma amisnya daging bebek itu rupanya bisa dihilangkan Sugeng Wibowo, pemilik warung Nasi Uduk dan Bebek Goreng Pak Joko Putra. Dia mampu mengolah daging bebek menjadi tidak alot dan keras saat dikunyah. Bahkan saat sudah dingin pun, daging ini masih tetap empuk. Rasanya gurih, manis, dan pedasnya pas di lidah. Bumbunya meresap di setiap potongan daging bebek goreng hingga ke tulang-tulangnya. Bila daging bebek goreng, bego begitu istilah Sugeng, itu disantap dengan nasi uduk hangat plus sambal nikmatnya terasa sampai suapan terakhir. Dengan kualitas seperti itu, tak heran bila warung Sugeng yang terletak di pinggiran Jalan Raya Petogogan, Jakarta Selatan, tak pernah sepi pembeli.

Butuh Waktu 3 Tahun

Untuk mencapai reputasi warung penyaji bebek yang enak, Sugeng butuh waktu lama. Mula-mula ia membuka warung nasi khas Jawa Timur di depan BTPN Petogogan pada 1993. Saat itu orang mengenal warungnya sebagai warung nasi pecel lele dan ayam saja. Namun pada tahun 2000, dia memperkenalkan bebek goreng sebagai menu baru di warungnya. Uji coba dilakukan dengan menyajikan dua ekor bebek yang dipotong menjadi 8 bagian. Hasilnya, seharian hanya laku 6 potong.

“Tidak banyak orang yang suka bebek goreng saat itu. Kalau di daerah Jawa Timur, bebek goreng sudah banyak yang doyan,” kenangnya. Total jenderal, dia butuh waktu sampai tiga tahun untuk mempromosikan bebek gorengnya hingga ada kenaikan permintaan.

Ketika pengunjung mulai menggemari nasi bebeknya, jumlah bebek yang dipotong naik dari 2 ekor menjadi 10 ekor. Permintaan kian naik sampai sekarang Sugeng menghabiskan 70 ekor sehari.

Empuk Dan Tidak Amis

Untuk bisa mengolah daging bebek empuk, gurih dan renyah, Sugeng mengaku, tidak ada rahasia khusus. Daging bebek yang sudah dipotong-potong, dimasak, lalu dibumbui dengan bumbu dapur biasa, “Seperti juga bumbu ungkep ayam,” tandasnya.

Daging dimasak selama 5 jam agar empuk dan bumbunya merasuk ke dalam daging. Setiap satu jam, tumpukan daging bebek yang dimasak tersebut di balik. “Mungkin karena kami hanya berani memberikan bumbu lebih saja. Kalau biasanya takarannya satu piring, kita tambah bumbunya menjadi dua piring,” ucap Sugeng merendah. Pria asal Lamongan, Jatim, itu juga pernah mencoba mempresto daging bebek, tapi hasilnya kurang memuaskan. Warna daging bebek saat dipresto tidak sebagus seperti kalau direbus.

Pelanggan Sugeng saat ini paling banyak dari kalangan anak muda. “Meski ada keluarga yang datang tapi 90% yang memesan bebek goreng anak muda,” tambahnya. Untuk memesan seporsi nasi bebek, pengunjung butuh bersabar tidak kurang dari 15 menit. Satu potong bebek goreng plus nasi uduk hangat dipatok cukup terjangkau, Rp13.000.

Jangan Pandang Sebelah Mata Bebek Lokal

DI mata masyarakat, menyantap bebek memang tak populer. Orang lebih terbiasa melahap sajian berbahan dasar ayam. Alasan mereka, menu bebek tak selezat ketimbang beragam olahan “saudara tua”-nya dalam keluarga unggas itu. Lagipula daging bebek lokal terasa keras sehingga membuat kita kesulitan waktu menyantapnya. Namun, bila tahu cara mengolahnya, memilih bahan dan diberi sedikit resep rahasia, bebek lokal mampu menembus pasar selera nusantara.
“Memang betul, kalau kita nggak bisa mengolahnya daging bebek itu akan terasa amis dan keras sekali. Saya sering kok mendapatkan daging bebek seperti itu,” ungkap Millyana Rani, Presiden Direktur (Presdir) PT Sarwagata Keluarga Sarana, pengelola restoran Bebek Bali. Lantaran dua keluhan kekurangan tadi, Millyana tak heran jika bebek jarang masuk dalam daftar santapan masyarakat Indonesia. Walhasil, ayam pun terasa begitu dominan di sini. Sebetulnya, kata Millyana, tren makan bebek tak bisa dibilang tersingkir begitu saja. Menu ini tetap populer bagi lidah pehobi makan sajian nusantara. “Cuma, bebek yang dipakai itu jenisnya bebek Peking. Bukan yang berasal dari lokal sini,” ujar perempuan kelahiran 23 Juni 1948 ini cepat. Akhirnya timbul pertanyaan: apa iya bebek lokal tak laku dijual?
Millyana penasaran. Ia segera membuat tim khusus untuk melacak bumbu olahan bebek yang sudah beredar di beberapa restoran yang lebih dulu menawarkan sajian ini. “Tim itu saya kirim ke Bali untuk mencoba menu bebek di beberapa restoran di sana. Dan waktu itu saya butuh waktu sebulan sebelum memutuskan membuka restoran (Bebek Bali) ini,” kenang Ibu dua anak ini sambil tersenyum.
Ketertarikan Millyana untuk mengolah dan menyajikan bebek lokal sebetulnya sudah sejak dari kecil. Ia mengaku paling suka berburu beragam makanan yang terbuat dari bebek. Tak peduli sekelas restoran atau pun yang ada di pinggir jalan. Pokoknya semua dicicipi. “Tapi ya itu tadi semuanya pakai bebek Peking kalau yang ada dipinggir jalan memang bebek lokal tapi dagingnya keras dan bau amis,” ungkapnya.
Hasil pelacakan itu makin mendorong Millyana untuk merealisasikan cita-cita. Apalagi cara mengolah bebek lokal sudah didapat. Tak ketinggalan bumbu rahasia di balik resep masakan. Jangan lupa, kata perempuan yang masih tetap lincah ini, pemilihan bahan dasar tak boleh dilupakan. “Bebek lokal yang saya pakai umurnya nggak boleh lebih dari 3 bulan dan beratnya sekitar satu kilogram,” jelas Millyana.
Akhirnya, kesimpulan survei itu menelurkan hasil. Pada 1997 Bebek Bali Taman Ria Senayan resmi berdiri. “Di luar bangunan, modal saya untuk jalankan ini habis sekitar Rp. 3 milyar–lah,” ujar perempuan yang pernah aktif di Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA) ini, ramah.

Kiat Jitu
Restoran Bebek Bali di Taman Ria Senayan sering dipakai untuk beragam acara penting. Dari jumpa pers artis sinetron, peluncuran produk, penayangan perdana program televisi hingga kelas dansa bagi para pehobinya. Jadi jangan heran, nama restoran ini tak lagi terdengar asing untuk para penyuka kuliner papan atas di Jakarta dan sekitarnya.
Bila sempat singgah ke Bebek Bali Taman Ria, tak usah kaget kalau sempat menjumpai wajah-wajah populer di kalangan masyarakat kita. Entah itu artis, pejabat, anggota legislatif hingga mantan pejabat di negara ini. Saat kami bertandang ke restoran apik ini, mantan menteri dalam kabinet pembangunan tempo dulu tampak asyik bercengkrama bersama keluarga besarnya.
Bebek Bali yang populis, mendorong gairah usaha Millyana. Ia membuka dua cabang berikut: Bebek Bali Water Boom Cikarang dan Batam Center. Pada Kamis (4/3) lalu, kota Medan, Sumatera Utara telah memiliki sajian khas ala Bebek Bali. “Restoran Bebek Bali di Medan merupakan franchise kami yang pertama,” ujar Millyana bangga.
Harus diakui, popularitas Bebek Bali ikut terdongkrak lantaran pembawaan Millyana yang ramah kepada siapa saja. Belum lagi pergaulannya yang luas dengan para petinggi negeri ini. “Ah, itu kan kebetulan saja,” ucap Millyana yang hingga kini aktif dalam organisasi sosial wanita Ria Pembangunan, merendah.
Millyana lebih suka restoran ini dibilang sukses berkat sejumlah kiat jitu yang diterapkannya ketimbang populer gara-gara pergaulan yang luas tadi. Apa saja kiat-kiat itu? “Saya selalu ingatkan kepada anak-anak (para karyawan-red) supaya selalu menjaga rasa atau citarasa restoran ini. Kedua, soal kebersihan. Dari bersih restoran, dapur sampai kebersihan diri sendiri,” tandasnya.
Perkara kebersihan Millyana memang tak mau main-main. Ia pun tak segan untuk memberi contoh nyata kepada para karyawan. “Mas, lihat sendiri kan kalau ada benda yang jatuh di lantai selalu saya ambil sendiri lalu dibuang ke tempat sampah,” katanya.
Kebersihan diri seorang karyawan juga tak pernah luput dari perhatian. Maklum, selain servis yang baik dan makanan yang enak, kebersihan diri karyawan menjadi kunci sukses sebuah restoran.
“Calon investor saya harus tahu itu. Saya selalu minta dia juga ikut training ke dapur lho,” imbuh Millyana. Ini berguna untuk menyelami sistem yang ada dan sekaligus menularkan kiat-kiat yang sudah diterapkan. “Dan jangan lupa, hal itu juga untuk menerapkan displin, supaya semuanya bisa berjalan,” tukas perempuan yang punya moto hidup: mencari titik temu dalam sebuah perbedaan. (SH/bayu dwi mardana/danang joko m

BEBEK BUMBU BALI

1. BAHAN 1) Bebek 1 ekor 2) Air 2 gelas 3) Minyak kelapa ½ gelas

2. BUMBU 1) Bawang merah 10 buah 2) Kemiri 10 biji 3) Bawang putih 5 siung 4) Laos 2 iris 5) Lombok merah 10 buah 6) Daun jeruk purut 4 lembar 7) Kunyit 1 iris 8)Sereh 2 batang 9) Terasi 1 sendok teh 10)Garam 2 sendok makan 11)Kecap ¾ sendok makan 12)Daun salam 4 lembar

3. CARA PEMBUATAN 1) Bebek yang sudah dibersihkan dipotong-potong seperlunya. 2) Semua bumbu dihaluskan kecuali laos, sereh, daun salam, daun jeruk purut. 3) Semua bumbu ditumis, potongan bebek dimasukkan ditambah kecap, digoreng sebentar. 4) Air 2 gelas dimasukkan masakan dijerangkan sambil ditutup, sampai air hampir habis dan bebek menjadi empuk. 5) Jika bebek belum empuk dapat ditambah air lagi, direbus lagi sampai kuah tinggal sedikit dan bebeknya empuk.

Bebek Bumbu Kari

(untuk 8 porsi)

Bahan:
1 ekor bebel, potong jadi 8 bagian
500 ml santan encer
200 ml santan kenal
2 buah bawang bombay, iris dadu

Bumbu:
5 siung bawang putih
10 butir bawang merah
5 cm jahe
5 cm kunyit
10 buah kapulaga
1/2 sdt ketumbar utuh
1/2 jintan
1/2 sdt adas manis
lada, pala, garam secukupnya
5 buah pekak
3 asam kandis
5 tangkai salam koja
5 lembar daun jeruk

Cara Membuat:

1.

Haluskan bawang putih, bawang merah, jahe, dan kunyit.

2.

Sangrai kapulaga, ketumbar, jintan, dan adas. Kemudia haluskan, sisihkan.

3.

Tumis semua bumbu halus hingga harum.

4.

Masukkan bebek, aduk rata. Tuang santan encer lalu pindahkan ke dalam panci presto. Kemudian presto selama 30 menit, angkat.

5.

Tambahkan santan kental lalu masak hingga matang, angkat, sajikan

Bebek panggang hijau

Marinated and grilled or roasted duck

In another recipe I described a traditional way of cooking a duck. This is my adaptation of it. Cooking the duck breast this way will give you a nice crisp skin and very tender, slightly pink slices of duck. Slice the meat after cooking, and serve straight away with some green salad or cooked green beans. This duck is equally good with rice, pasta, or potatoes. The marinade can be reheated with 112 ml / 4 fl oz / 1/2 cup of water and served as a sauce.

For 4 people

  • 4 duck breasts
  • The paste as for gulai itik

Simmer the paste for 6-8 minutes, stirring often, then leave it to get cold in a glass bowl.

Make two incisions in the skin of each duck breast. When the paste is cold, marinate the breasts in it, mixing them well so that every duck breast is well coated with the marinade. Leave to stand in the fridge for at least 4 hours, or overnight.

When you are ready to eat, pre-heat the oven to 200 degrees C / 400 degrees F / Gas Mark 6. Drain off the marinade, and place the duck breasts, skin upper-most, on a rack in a baking tray. Half-fill the tray with hot water and roast for 25-30 minutes. Serve immediately as suggested above.

If you are going to grill the duck, whether under electricity or gas, set the grill to maximum heat. Grill on the meat side first for 20 minutes, then turn the breasts over and continue grilling until the skins are almost charred. Serve straight away

Bebek Panggang

Bahan:

1 ekor bebek, ketimun yang dipotong-potong tipis.
Bahan untuk mengasinkan:
2 sdm madu, 2 sdm saus kecap, 1 sdt garam, 1/2 sdt merica, 1 sdm jahe segar (sudah diparut), 1 siung bawang putih, 1 sdm saus Hoisin.

Cara membuatnya:
1. Bersihkan bebek dan buang isinya.
2. Campur seluruh bahan-bahan ke dalam panci dan beri air secukupnya, lalu rebus sambil diaduk-aduk. Setelah mendidih masukkan daging bebek.
3. Setelah bumbu meresap ke dalam daging bebek, kira-kira setengah jam. Setelah itu, masukkan daging bebek ke dalam oven bertemperatur tinggi dan panggang sekitar seperempat sampai satu jam lamanya.
4. Setelah matang, potong daging bebek sesuai selera, letakkan di piring dan beri hiasan ketimun dan potongan cabe merah.

Bebek Masak Santan

Bahan:
1/2 ekor bebek (potong-potong sedang), kentang (potong lebar dan goreng sesaat), 6 butir bawang merah, 3 siung bawang putih, 1 ruas kencur, 1 ruas kunyit, 1/2 sdt ketumbar, 1 ruas jahe, 2 lembar daun jeruk, 1 tangkai sereh dimemarkan, 1 ruas lengkuas, 1 potong asam, garam secukupnya, 2 gelas santan encer dan 1 gelas santan kental.

Cara membuatnya:
1. Haluskan bawang merah, bawang putih, kencur, kunyit, ketumbar, jahe dan kemiri. Tumis hingga harum, tambahkan daun jeruk, lengkuas, asam dan garam.
2. Masukkan bebek dan santan encer. Masak hingga matang. Tambahkan santan kental dan kentang. Biarkan hingga kuah berminyak, angkat dan siap disajikan.

Bebek Bumbu Kecap

Bahan:
1 ekor bebek muda, 3 siung bawang putih, 2 sdm kecap Inggris, 2 sdm kecap manis, 2 jeruk limau, garam dan vetsin secukupnya, dan minyak sayur secukupnya.

Cara membuatnya:
Bersihkan bebek dan potong-potong. Setelah bersih, goreng hingga matang. Ulek bawang putih lalu campurkan dengan kecap Inggris, kecap manis, garam dan vetsin. Susun potongan bebek yang telah matang di atas piring lalu siram dengan bumbu saus kecap dan beri perasan air jeruk. Beri hiasan ketimun dan cabe merah besar

Itik Peking Panggang

Serve 4 to 6

Ingredients:
One 2 to 3 kilos duck
8 cups water
1 slice ginger
1 scallion, cut into halves
3 tablespoons honey
1 tablespoon white vinegar
1 tablespoon sherry
1 1/2 tablespoons cornstarch, dissolved in 3 tablespoons water
Scallions for garnish

Directions:
Clean duck. Wipe dry and tie string around neck.
Hang duck in cool, windy place 4 hours.
Fill large wok with water. Bring to boil. Add ginger, scallion, honey, vinegar, and sherry. Bring to boil. Pour in dissolved cornstarch. Stir constantly.
Place duck in large strainer above larger bowl. Scoop boiling mixture all over duck for about 10 minutes.
Hang duck again in cool, windy place for 6 hours until thoroughly dry.
Place duck breast side up on a greased rack in oven preheated to 350 degrees. Set a pan filled with 2 inches of water in bottom of oven. (This is for drippings). Roast 30 minutes.
Turn duck and roast 30 minutes more.
Turn breast side up again. Roast 10 minutes more.
Use sharp knife to cut off crispy skin. Serve meat and skin immediately on a prewarmed dish.
The duck is eaten hot with hoisin sauce rolled in Mandarin Crepes. Garnish with scallion flowerets

Itiak lado ijo

Membuat itiak lado ijo, kata Agus, pertama kali yang patut diperhatikan adalah memilih daging bebek. Daging bebek muda, rasanya lebih empuk. Pun demikian dengan memasaknya yang lebih cepat.

Mendengar itu, ibu-ibu spontan mengambil kertas dan langsung mencatat. Lalu, mulailah Agus yang didampingi Sales & Marketing Coordinator, Agusdin, menunjukkan cara pengolahannya. Bebek dibagi empat, dengan mengambil bagian dada dan paha.

“Setelah bebek dipotong, dibersihkan dan sisihkan. Kemudian blender bumbu-bumbunya,” ujar Agus yang berpengalaman masak selama 9 tahun. Bumbu-bumbu yang dihaluskan itu seperti cabai jumbo hijau, cabai jumbo merah, cabai rawit dan bawang merah. Pemakaian cabai dalam masakan ini memang dimaksimalkan untuk mendapatkan rasa daging yang pedas.

Bumbu halus yang ditumis itu pun mengeluarkan aroma wangi. Tak mau melewatkan momen ini, para penonton bergerak maju melihat kepiawaian Agus lebih dekat. Selanjutnya, daging bebek dimasukkan ke dalam bumbu dan dimasak selama empat jam hingga bumbu meresap.

Selain masakan bebek, ada pula masakan ayam, Chicken Five Spicy. “Kalau masakan ini, ayam lebih dulu direndam selama 24 jam dengan kecap asin. Biar rasanya kuat saat digoreng,” terang Agus yang diamini anggukan penonton. Penonton diajang masak itu terlihat aktif, dengan beberan pertanyaan yang kerap dilontarkan.

Bumbu khas pada masakan ini adalah ang ciu atau saus tape. Hingga rasa masakan ini agak berfermentasi. Saat ayam disajikan pun terlihat cairan kental berwarna cokelat, berasal dari tepung maizena dan kacang kedelai hitam.

Resep terakhir adalah Tropical Fresh Fruit. Suami Yani itu menyiapkan berbagai buah-buahan segar seperti semangka, melon, nanas, dan pepaya. Masing-masing buah dipotong model chunk (memanjang dan tebal), lalu ditaruh di dalam bowl (mangkuk) berisi es batu. Rasa buah yang dingin dan segar, menjadi kenikmatan tersendiri bagi penonton, saat ikut mencicipi buah-buahan itu. Dan seperti biasa, ajang memasak tersebut diakhiri dengan pembagian doorprize menarik dari Kokita “Memang Koki Kita”.

Nasi “Bego” Pak Joko Putra

Menu daging bebek biasanya dicap alot dan amis. Namun si empunya warung pinggir jalan ini mampu menyajikan bebek yang empuk dan bikin ketagihan.

BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG DENGAN NUTRISI

Pendahuluan.

Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar dan modern, dengan skala usaha kecilpun akan mendapatkan keuntungan yang baik jika dilakukan dengan prinsip budidaya modern. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu budidaya penggemukan sapi potong baik untuk skala usaha besar maupun kecil.

II. Penggemukan
Penggemukan sapi potong adalah pemeliharaan sapi dewasa dalam keadaan kurus untuk ditingkatkan berat badannya melalui pembesaran daging dalam waktu relatif singkat (3-5 bulan).
Beberapa hal yang berkaitan dengan usaha penggemukan sapi potong adalah :

1. Jenis-jenis Sapi Potong.
Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :

A. Sapi Bali.
Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru.

B. Sapi Ongole.
Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.

C. Sapi Brahman.
Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.

D. Sapi Madura.
Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.

E. Sapi Limousin.
Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik

2. Pemilihan Bakalan.
Bakalan merupakan faktor yang penting, karena sangat menentukan hasil akhir usaha penggemukan.
Pemilihan bakalan memerlukan ketelitian, kejelian dan pengalaman. Ciri-ciri bakalan yang baik adalah :

- Berumur di atas 2,5 tahun.
- Jenis kelamin jantan.
- Bentuk tubuh panjang, bulat dan lebar, panjang minimal 170 cm tinggi pundak minimal 135 cm, lingkar dada 133 cm.
- Tubuh kurus, tulang menonjol, tetapi tetap sehat (kurus karena kurang pakan, bukan karena sakit).
- Pandangan mata bersinar cerah dan bulu halus.
- Kotoran normal

III. Tatalaksana Pemeliharaan.
3.1. Perkandangan.
Secara umum, kandang memiliki dua tipe, yaitu individu dan kelompok. Pada kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m. Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang karena banyak bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan tipe kandang ini yaitu terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan.

3.2. Pakan.
Berdasarkan kondisi fisioloigis dan sistem pencernaannya, sapi digolongkan hewan ruminansia, karena pencernaannya melalui tiga proses, yaitu secara mekanis dalam mulut dengan bantuan air ludah (saliva), secara fermentatif dalam rumen dengan bantuan mikrobia rumen dan secara enzimatis setelah melewati rumen.
Penelitian menunjukkan bahwa penggemukan dengan mengandalkan pakan berupa hijauan saja, kurang memberikan hasil yang optimal dan membutuhkan waktu yang lama. Salah satu cara mempercepat penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat. Konsentrat yang digunakan adalah ampas bir, ampas tahu, ampas tebu, bekatul, kulit biji kedelai, kulit nenas dan buatan pabrik pakan. Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan. Kebutuhan pakan (dalam berat kering) tiap ekor adalah 2,5% berat badannya. Hijauan yang digunakan adalah jerami padi, daun tebu, daun jagung, alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas rendah dan rumput gajah, setaria kolonjono sebagai pakan berkualitas tinggi.

Penentuan kualitas pakan tersebut berdasarkan tinggi rendahnya kandungan nutrisi (zat pakan) dan kadar serat kasar. Pakan hijauan yang berkualitas rendah mengandung serat kasar tinggi yang sifatnya sukar dicerna karena terdapat lignin yang sukar larut oleh enzim pencernaan.

Oleh karena itu PT. NATURAL NUSANTARA membantu peternak dengan mengeluarkan produk suplemen khusus ternak yaitu VITERNA Plus, POC NASA, dan HORMONIK.

Produk ini menggunakan teknologi asam amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh sapi, yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak.
VITERNA Plus mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak, yaitu :

- Mineral-mineral sebagai penyusun tulang, darah
dan berperan dalam sintesis enzim, yaitu N, P, K,
Ca, Mg, Cl dan lain-lain.
- Asam-asam amino, yaitu Arginin, Histidin, Leusin, Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein, pembentuk sel dan organ tubuh.
- Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh sapi dari serangan penyakit.
- Asam – asam organik essensial, diantaranya asam propionat, asam asetat dan asam butirat.

POC NASA mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan sapi, ketahanan tubuh, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran.

Sedangkan HORMONIK berfungsi membantu memacu dan meningkatkan bobot ternak sapi.

Cara Praktis Aplikasi Produk
1. Larutkan 1 botol VITERNA Plus (500cc) dan POC NASA (500 cc) dalam 1 wadah khusus. Aduk/kocok hingga merata kemudian tambahkan dalam larutan tersebut 20 cc atau 2 tutup HORMONIK. Kembali aduk hingga merata.

2. Berikan kepada ternak sapi dengan dosis 10 cc/ekor dengan interval 2 kali sehari (pagi dan sore) dengan cara dicampurkan dalam pakan konsentrat atau air minum.

3.3. Pengendalian Penyakit.
Dalam pengendalian penyakit, yang lebih utama dilakukan adalah pencegahan penyakit daripada pengobatan, karena penggunaan obat akan menambah biaya produksi dan tidak terjaminnya keberhasilan pengobatan yang dilakukan. Usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan sapi adalah :

a. Pemanfaatan kandang karantina. Sapi bakalan yang baru hendaknya dikarantina pada suatu kandang terpisah, dengan tujuan untuk memonitor adanya gejala penyakit tertentu yang tidak diketahui pada saat proses pembelian. Disamping itu juga untuk adaptasi sapi terhadap lingkungan yang baru. Pada waktu sapi dikarantina, sebaiknya diberi obat cacing karena berdasarkan penelitian sebagian besar sapi di Indonesia (terutama sapi rakyat) mengalami cacingan. Penyakit ini memang tidak mematikan, tetapi akan mengurangi kecepatan pertambahan berat badan ketika digemukkan. Waktu mengkarantina sapi adalah satu minggu untuk sapi yang sehat dan pada sapi yang sakit baru dikeluarkan setelah sapi sehat. Kandang karantina selain untuk sapi baru juga digunakan untuk memisahkan sapi lama yang menderita sakit agar tidak menular kepada sapi lain yang sehat.

b. Menjaga kebersihan sapi bakalan dan kandangnya. Sapi yang digemukkan secara intensif akan menghasilkan kotoran yang banyak karena mendapatkan pakan yang mencukupi, sehingga pembuangan kotoran harus dilakukan setiap saat jika kandang mulai kotor untuk mencegah berkembangnya bakteri dan virus penyebab penyakit.

c. Vaksinasi untuk bakalan baru. Pemberian vaksin cukup dilakukan pada saat sapi berada di kandang karantina. Vaksinasi yang penting dilakukan adalah vaksinasi Anthrax.
Beberapa jenis penyakit yang dapat meyerang sapi potong adalah cacingan, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kembung (Bloat) dan lain-lain.

IV. Produksi Daging.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daging adalah
1. Pakan.
Pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap kualitas daging. Perlakuan pakan dengan NPB akan meningkatkan daya cerna pakan terutama terhadap pakan yang berkualitas rendah sedangkan pemberian VITERNA Plus memberikan berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak sehingga sapi akan tumbuh lebih cepat dan sehat.

2. Faktor Genetik.
Ternak dengan kualitas genetik yang baik akan tumbuh dengan baik/cepat sehingga produksi daging menjadi lebih tinggi.

3. Jenis Kelamin.
Ternak jantan tumbuh lebih cepat daripada ternak betina, sehingga pada umur yang sama, ternak jantan mempunyai tubuh dan daging yang lebih besar.

4. Manajemen.
Pemeliharaan dengan manajemen yang baik membuat sapi tumbuh dengan sehat dan cepat membentuk daging, sehingga masa penggemukan menjadi lebih singkat.

Abror Yudi Prabowo
Service Order STOKIS CENTER NASA G-077
0818 4646 06.

Proses pemijahan di kolam pemijahan

Syarat kolam induk

1. Kolam dapat berupa tanah seluruhnya atau tembok sebagian dengan dasar tanah.

2. Luas bervariasi, minimal 50 m2.

3. Kolam terdiri dari dua bagian yaitu bagian dangkal (70%) dan bagian dalam (kubangan) 30% dari luas kolam. Kubangan ada di bagian tengah kolam dengan kedalaman 50-60 cm, yang berfungsi untuk bersembunyi induk, bila kolam disurutkan airnya.

4. Pada sisi-sisi kolam ada sarang peneluran dengan ukuran 30cm x 30cm x 25cm, dari tembok yang dasarnya dilengkapi saluran pengeluaran terbuat dari pipa paralon diamneter 1 inchi untuk keluarnya benih ke kolam pendederan.

5. Setiap sarang peneluran mempunyai satu lubang yang dibuat dari pipa paralon (PVC) ukuran kurang lebih 4 inchi untuk masuknya induk-induk lele.

6. Jarak antarsarang peneluran kurang lebih 1 m.

7. Kolam dikapur merata, lalu tebarkan pupuk kandang (kotoran ayam) sebanyak 500-750 gram/m2.

8. Airi kolam sampai batas kubangan, biarkan selama empat hari.

Kolam rotifera (cacing bersel tunggal)

1. Letak kolam rotifera di bagian atas dari kolam induk berfungi untuk menumbuhkan makanan alami ikan (rotifera).

2. Kolam rotifera dihubungkan ke kolam induk dengan pipa paralon untuk mengalirkan rotifera.

3. Kolam rotifera diberi pupuk organik untuk memenuhi persyaratan lingkungan tumbuh rotifera.

4. Luas kolam kurang lebih 10 m2.

Proses pemijahan

1. Siapkan satu pasang indukan per sarang; atau satu pasang per 2-4 m2 luas kolam (pilih salah satu).

2. Masukkan induk yang terpilih ke kubangan, setelah kubangan diairi selama empat hari.

3. Masukkan makanan yang berprotein tinggi setiap hari seperti cacing, ikan runcah, pelet dan semacamnya, dengan jumlah berat makanan 2-3% dari berat total ikan yang ditebarkan .

4. Biarkan sampai 10 hari.

5. Setelah induk dalam kolam selama 10 hari, air dalam kolam dinaikkan sampai 10-15 cm di atas lubang sarang peneluran atau kedalaman air dalam sarang sekitar 20-25 cm. Biarkan sampai 10 hari. Pada saat ini induk tak perlu diberi makan, dan diharapkan selama 10 hari berikutnya induk telah memijah dan bertelur. Setelah 24 jam, telur telah menetas di sarang, terkumpullah benih lele. Induk lele yang baik bertelur 2-3 bulan satu kali bila makanannya baik dan akan bertelur terus sampai umur lima tahun.

6. Benih lele dikeluarkan dari sarang ke kolam pendederan dengan cara: air kolam disurutkan sampai batas kubangan, lalu benih dialirkan melalui pipa pengeluaran.

7. Benih-benih lele berukuran 1-2 cm yang sudah dipindahkan ke kolam pendederan dengan kepadatan 60-100 ekor/m2 diberi makanan secara intensif.

8. Seekor induk lele dapat menghasilkan kurang lebih 2.000 ekor benih. Induk lele biasanya memijah sore hari atau malam hari.

Pemijahan di bak pemijahan secara berpasangan

Penyiapan bak pemijahan

1. Buat bak dari semen atau teraso dengan ukuran 1m x 1m atau 1m x 2m dan tinggi 0,6 m.

2. Bak dilengkapi kotak dari kayu ukuran 25cm x 40cm x 30cm tanpa dasar sebagai sarang pemijahan. Di bagian atas diberi lubang dan diberi tutup untuk melihat apakah ada telur dalam sarang. Bagian depan kotak/sarang pemijahan diberi enceng gondok supaya kotak menjadi gelap.

3. Sarang pemijahan dapat dibuat pula dari tumpukan batu bata atau ember plastik atau barang bekas lain yang memungkinkan.

4. Sarang bak pembenihan diberi ijuk dan kerikil untuk menempatkan telur hasil pemijahan.

5. Sebelum bak digunakan, bersihkan/cuci dengan air dan bilas dengan formalin 40% atau KMnO4 (dapat dibeli di apotik); kemudian bilas lagi dengan air bersih dan keringkan.

Pemijahan

1. Tebarkan satu pasang induk dalam satu bak setelah bak diisi air setinggi kurang lebih 25 cm. Sebaiknya airnya mengalir. Penebaran dilakukan pada jam 14.00–16.00.

2. Biarkan induk selama 5-10 hari, beri makanan intensif. Setelah kurang lebih 10 hari, diharapkan sepasang induk ini telah memijah, bertelur dan dalam waktu 24 jam telur-telur telah menetas. Telur-telur yang baik adalah yang berwarna kuning cerah.

3. Anak-anak lele yang masih kecil (stadium larva) tersebut diberi makan kutu air atau anak nyamuk dan setelah agak besar dapat diberi cacing dan telur rebus.

Pemijahan di bak pemijahan secara masal

Penyiapan bak pemijahan secara masal

1. Buat bak dari semen seluas 20 m2 atau 50 m2, ukuran 2m x10m atau 5m x 10m.

2. Di luar bak, menempel dinding bak dibuat sarang pemijahan ukuran 30cm x 30cm x 30cm, yang dilengkapi dengan saluran pengeluaran benih dari paralon berdiameter 1 inchi. Setiap sarang dibuatkan satu lubang dari paralon berdiameter 4 inchi.

3. Dasar sarang pemijahan diberi ijuk dan kerikil untuk tempat menempel telur hasil pemijahan.

4. Sebelum digunakan, bak dikeringkan dan dibilas dengan larutan desinfektan atau formalin, lalu dibilas dengan air bersih; kemudian keringkan.

Pemijahan

1. Tebarkan induk lele yang terpilih (matang telur) dalam bak pembenihan sebanyak dua kali jumlah sarang, induk jantan sama banyaknya dengan induk betina atau dapat pula ditebarkan 25-50 pasang untuk bak seluas 50 m2 (5m x 10m), setelah bak pembenihan diairi setinggi 1 m.

2. Setelah 10 hari induk dalam bak, surutkan air sampai ketinggian 50-60 cm, induk beri makan secara intensif.

3. Sepuluh hari kemudian, air dalam bak dinaikkan sampai di atas lubang sarang sehingga air dalam sarang mencapai ketinggian 20-25 cm.

4. Saat air ditinggikan diharapkan induk-induk berpasangan masuk sarang pemijahan, memijah dan bertelur. Biarkan kurang lebih 10 hari.

5. Sepuluh hari kemudian air disurutkan lagi, dan diperkirakan telur-telur dalam sarang pemijahan telah menetas dan menjadi benih lele.

6. Benih lele dikeluarkan melalui saluran pengeluaran benih untuk didederkan di kolam pendederan.

Keripik Pepaya

KERIPIK PEPAYA

1. PENDAHULUAN

Keripik adalah irisan buah atau umbi yang digoreng sampai kering dan garing. Keripik mempunyai kadar air rendah sehingga dapat disimpan lama.Meskipun cara pembuatannya sederhana dan cukup mudah, namaun keripik pepaya belum dikenal oleh masyarakat dan tidak tersedia di pasaran.

2. BAHAN

Buah pepaya. Buah pepaya yang digunakan adalah yang telah matang petik, masih keras, sudah terasa manis, dan bila digores tidak banyak mengeluarkan getah. Jumlah 10 kg.

3. PERALATAN

1) Pisau dan landasannya. Alat ini digunakan untuk mengupas dan mengiris buah pepaya. Disarankan menggunakan dua pisau yang berbeda. Untuk pengupasan digunakan pisau yang biasa digunakan di rumah tangga. Sedangkan untuk mengiris digunakan pisau besar yang biasa digunakan untuk pemotongan dan pencincangan daging.

2) Kompor. Kompor bersumbu digunakan untuk menggoreng keripik pepaya dalam jumlah kecil. Kompor bertekanan udara digunakan untuk menggoreng keripik pepaya dalam jumlah besar.

3) Penggoreng vakum. Penggoreng vakum merupakan alternatif pengganti kompor. Alat ini menghasilkan panas, sekaligus menurunkan tekanan udara pada saat penggorengan. Dengan alat ini, suhu penggorengan lebih rendah dan stabil serta waktu penggorengan yang lebih singkat.

4) Wajan. Wajan digunakan untuk menggoreng keripik pepaya. Wajan yang

terbuat dari besi tebal yang berat lebih baik digunakan karena panas lebih

merata danbahan yang digoreng tidak mudah gosong.

5) Kemasan. Kemasan adalah wadah untuk mengemas keripik pepaya. Berbagai kemasan dapat digunakan, yaitu:

a. Kantong plastik polietilen

b. Kantong aluminium foil berlapis plastik

c. Kotak plastik semi kaku

d. Kotak kaleng

Pengemasan dengan kantong plastik dan aluminium foil kurang melindungi

bahan dari kerusakan mekanis (retak dan pecah). Untuk mengurangi

kerusakan tersebut, juga untuk menambah daya simpan, ke dalam kantong

biasanya ditambahkan gas karbondioksida (CO2 ) atau nitrogen (N2). Dengan

adanya gas tersebut kantong akan menggelembung sehingga keripik tidak

akan tergencet bila kantong ditumpuk, atau tertindih. Gas tersebut juga tidak

bereaksi dengan bahan sehingga meniadakan terjadinya oksidasi terhadap

minyak yang terkandung pada bahan.

Produk yang dikemas dengan kantong plastik atau kaleng, perlu dikemas

terlebih dahulu dengan kantong plastik yang tipis, kemudian baru

dimasukkan ke dalam kotak tersebut.

6) Sealer. Alat ini digunakan untuk menutup kantong plastik dengan

menggunakan panas. Bila kedua sisi bagian dalam mulut kantong ditekan

dengan elemen pemanas, maka kedua sisi tersebut akan melunak, saling

menempel, dan tidak dapat tepisah setelah dingin.

7) Alat pengering. Alat ini digunakan untuk mengeringkan irisan pepaya sampai

kadar air di bawah 9%.

8)Baskom. Baskom digunakan untuk wadah irisan pepaya basah dan kering,

serta keripik pepaya.

9) Rak peniris. Rak peniris digunakan untuk meniriskan keripik yang baru

selesai digoreng. Rak ini terdiri dari penyangga berlobang-lobang yang

terbuat dari kawat tahan karat (aluminium atau stainless steel).

4. CARA PEMBUATAN

1) Pengirisan dan blanching

a. Buah pepaya dikupas, dibelah dan dibuang bijinya. Setelah itu buah

dicuci sampai bersih.

b. Buah diiris-iris dengan ketebalan 5 mm. Setelah itu, irisan pepaya di blanching, yaitu dengan mencelupkan buah ke dalam air panas (95-980C) selama 3 menit smbil diaduk-aduk dengan pelan. Untuk blanching ini, setiap 1 kg irisan buah diperlukan 2 liter air panas.

Blanching diperlukan untuk:

- Mematikan enzim penyebab reaksi pencoklatan (perubahan warna

menjadi coklat atau warna gelap lainnya).

- Mengurangi kandungan mikroba pada bahan.

- Melayukan bahan sehingga lebih cepat dikeringkan dan mengeluarkan

udara dari jaringan bahan. Buah yang telah diblanching segera ditiriskan.

2) Pengeringan

a. Irisan buah dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air kurang

dari 9% dengan tanda bahan tampak kering dan mudah dipatahkan. Untuk

pengendalian mutu, sebaiknya kadar air ditentukan analisa kimia.

Sedangkan untuk industri kecil, cukup dengan mengamati tanda-tanda

tersebut.

b. Setelah kering, irisan buah dapat langsung digoreng, atau disimpan. Jika disimpan terlebih dahulu, harus digunakan wadah yang tidak dapat dilewati udara dan uap air, serta tertutup rapat.

3) Penggorengan

Penggorengan dilakukan dengan banyak minyak panas yang bersuhu 1650 C selama 13-17 detik. Untuk mendapatkan mutu keripik yang lebih baik, penggorengan dilakukan dengan menggunakan penggorengan vakum pada suhu 1200C, dengan tekanan 60-80 mmHg selama 58-62 menit. Setelah selesai digoreng, keripik ditiriskan sampai dingin.

4) Pengemasan

Keripik pepaya dikemas di dalam kantong plastik, aluminium foil berlapis plastik, kotak plastik semi kaku, atau kotak kaleng.

Sumber:

Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera Barat, Hasbullah, Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat

NILA GIFT, NILA YANG DIJANTANKAN

Makin pintar orang, makin tega ia memanipulasi kelamin makhluk lain. Korban manipulasi dalam kisah ini ialah ikan nila. Ikan betina mestinya hidup sebagai betina, tetapi disuruh menjadi jantan agar tumbuh lebih maskulin.

Hasil manipulasi kelamin diedarkan sebagai nila gift (genetic improvement of farmed tilapia). Orang melakukan hal ini karena ikan nila jantan lebih pesat tumbuhnya daripada ikan betina. Ikan betina selalu kurus karena terpaksa berpuasa berhari-hari selama mulutnya dipakai sebagai mesin tetas. Induk nila memang ikan pengeram mulut.

Dulu dengan pemisahan seks

Keinginan untuk memelihara ikan jantan saja dulu sudah pernah dilakukan secara manusiawi. Anak-anak ikan nila yang mulai jelas tanda kelaminnya dipisah. Anak jantan dipelihara dalam kolam khusus ikan jantan, dan anak betina dipelihara dalam kolam khusus ikan betina.

Cara ini setelah berjalan beberapa tahun ternyata masih banyak salahnya. Ada beberapa ikan betina yang dikira ikan jantan oleh pekerja sexing (pemisahan seks), lalu dimasukkan ke kolam ikan jantan. Ikan betina salah parkir ini menjadi primadona juwita nila yang diuber-uber para ikan jantan. Akhirnya, ikan jantan tidak sempat tumbuh tetapi menghabiskan waktu untuk berebut pacar betina saja.

Karena itu, di kolam pemeliharaan yang modern, usaha penggemukan ikan jantan tidak dilakukan dengan sexing lagi, tetapi penyeragaman seks.

Ikan mesir dari Nil

Ngomong-omong, ikan nila yang sedang diperbincangkan ini bukan jenis ikan pribumi Indonesia. Ia dimasukkan pertama kali ke Indonesia dari Lukang Research Station Taiwan, oleh Lembaga Penelitian Perikanan Darat Bogor pada tahun 1969. Sebelumnya, ikan nila warga negara Taiwan itu dimasukkan dari Afrika. Tujuannya untuk memperkaya jenis ikan budidaya setempat yang nilai jualnya tinggi.

Daerah penyebarannya Sungai Nil di Mesir, sampai ia disebut Tilapia nilotica. Di kalangan ilmuwan ikan, nama Tilapia nilotica dikoreksi, dan diminta ditulis Oreochromis niloticus. Alasannya, berdasarkan perilaku pemijahan (perkawinan), suku Tilapiinae terbagi atas dua kelompok. Pertama, ikan-ikan pengeram mulut (seperti Oreochromis dan Sarotherodon), dan kedua, para pemijah dasar (seperti Tilapia).

Karena ikan nila itu pengeram mulut, maka ia harus dimasukkan ke kelompok pertama, dan diberi nama Oreochromis atau Sarotherodon. Begitulah pertimbangan pakar ikan Trevawas yang ingin menertibkan pemberian nama Latin itu, dalam Tilapiine Fishes of the Genera Sarotherodon, Oreochromis, and Danakila, British Museum of Natural History (1983).

Oreochromis yang tulen memang seratus persen memijah di lapisan air daerah atasan, dan membuahi telur dalam air juga, sebelum induk betina mengeramnya di dalam mulut. Sebaliknya, Tilapia yang tulen, seratus persen memijah dalam lubang galian di dasar, dan membuahi telur dalam lubang itu juga sebelum mencakup telur dalam mulut.

Sial sekali, Tilapia nilotica ternyata plin-plan memakai kedua cara itu sekaligus. Mula-mula menggali lubang, tetapi telurnya tidak ditaruh di situ, melainkan dalam air di atasnya. Dibuahinya pun ketika melayang-layang dalam air di atas lubang itu. Lubang dipakai sebagai tempat upacara saja.
Karena itu, dalam buku ikan terbitan mutakhir, ikan itu disebut dengan tiga nama. Nama baru Oreochromis dan Sarotherodon, dan nama lama Tilapia.

Untuk keperluan penyebarluasan teknik manipulasi genetik, ikan itu masih tetap disebut nila gift (genetic improvement of farmed tilapia). Bukan nila gifo (genetic improvement of farmed oreochromis).

Akan tetapi untuk memenuhi aspirasi Trevawas yang ingin menertibkan nama ilmiah, ikan nila disebut Oreochromis niloticus saja, terutama di tempat-tempat yang sulit dijangkau oleh orang awam, seperti perpustakaan museum misalnya, atau Perguruan Tinggi “Menara Gading”.

Pengeram mulut sekaligus pemijah dasar

Ikan nila jantan yang sudah cukup umur (empat bulan) dan ngebet mau kawin, akan mencari tempat yang datar dan bersih di dasar kolam. Itu dinyatakannya sebagai wilayah kekuasaan yang dipertahankannya sampai titik darah penghabisan. Kalau tak ada perjaka lain yang merongrong lagi, ia akan menggali lubang di tempat itu dengan mulutnya. Itu dijadikan mahligai perkawinan.

Ikan betina yang sudah “masak telur” akan segera mengeluarkan sekelompok telur di atas lubang itu. Tetapi kemudian ia memutar badannya untuk mencakup kelompok telur itu dengan mulutnya. Maksudnya, agar telur dapat dibuahi dengan seksama nanti kalau ia berenang di belakang suaminya sambil mengemut telur, tetapi tempo-tempo membuka lubang mulut.

Sejak itu, mulutnya menjadi mesin tetas. Ia terpaksa berpuasa sehingga badannya kurus. Sialnya, ia pun diusir dari lubang itu oleh bekas suaminya. Tega benar! Mantan suami ini sibuk melitsus. Hanya juwita nila yang sudah “masak telur” yang boleh masuk lubang.

Setelah tiga hari, menetaslah telur itu, tetapi anak-anak masih tetap ingin berlindung dalam rongga mulut induknya. Mereka memang belum becus berenang. Baru setelah 12 hari, mereka dibiarkan keluar dari mulut induk untuk belajar berenang di luar. Kalau ada bahaya, segera mulut itu mengisap mereka kembali. Seperti anak-anak ayam yang sedang diasuh induknya.

Dicelup jadi jantan

Masuknya ikan nila ke Indonesia jelas menguntungkan karena masyarakat mendapat ikan gemuk yang berdaging tebal. Dalam tempo empat bulan saja, ikan jantan sudah mencapai bobot setengah kilo. Lebih gemuk daripada ikan mujair, dan lebih kencang dagingnya daripada ikan mas.

Berbeda dengan mujair, tubuh ikan nila lebih tinggi, sehingga dagingnya lebih banyak. Daging ini putih, tebal, padat, dan tidak berduri, sehingga sangat digemari di luar negeri sebagai fillet ikan. Kira-kira sepadan dengan fillet ikan kakap.

Peluang bisnis ini segera disambar oleh perusahaan perikanan modern, termasuk perusahaan multinasional. Mereka mengawinkan induk ikan nila dalam kolam pemijahan untuk memperoleh benih. Benih (yang disebut larva) ikan selembut 0,5 – 1 cm (berumur seminggu) ini dicelup dalam bak plastik berisi larutan hormon kelamin jantan sintetik metil-testosteron dalam alkohol 95%, sepekat 2 mg/l air. Satu liter larutan dapat dipakai untuk 100 ekor benih.

Sesudah direndam selama 6 – 8 jam, mereka sudah cukup kerasukan hormon di seluruh tubuhnya, dan dapat ditebar ke dalam kolam pendederan (pembenihan). Pasti benih nila yang sekarang disebut nila gift itu akan tumbuh menjadi ikan jantan semua. Ini karena perbandingan hormon kelamin jantan androgen (testosteron) dalam tubuhnya lebih tinggi daripada hormon kelamin betina estrogen.

Kerja sama mitra usaha

Tugas mendeder (membesarkan larva ikan) dilakukan sendiri oleh perusahaan dalam kolam pendederan. Ada juga perusahaan yang menyerahkan tugas ini kepada petani ikan yang dijadikan mitra usaha perusahaan. Pendederan selama 45 hari menghasilkan benih ikan 3 – 5 cm. Ini dijual kepada petani ikan lain yang membesarkannya lebih lanjut dalam kolam terapung di danau dan waduk pengairan yang dalam.

Kolam terapung ini dibuat dari jaring nilon atau serat sintetik lainnya, berbentuk petak persegi panjang yang ditenggelamkan dalam air danau. Dasarnya ditutup dengan jaring pula sehingga ia mirip bak terapung yang terbuka bagian atasnya. Supaya dapat tenggelam, jaring diberi pemberat bagian bawahnya tetapi diberi pelampung di bagian atasnya, berupa beberapa drum kosong yang sudah dilas rapat-rapat. Jaring persegi berukuran 7 x 7 x 1 m ini tidak sampai mencapai dasar danau tetapi mengapung dekat permukaan, sampai disebut juga jaring terapung. Tenggelamnya hanya duapertiga bagian.

Untuk menuju ke kolam yang letaknya agak jauh di tengah danau, diperlukan perahu untuk mengangkut alat pemeliharaan dan pakan ikan. Untuk menyimpan alat dan pakan, serta berlaku sebagai tempat berteduh kalau ada hujan lebat, dibangun gubuk beratap di atas tempat pertemuan pematang kolam. Pematang ini juga mengapung di atas drum-drum kosong.

Benih 3 – 5 cm dibesarkan dalam kolam (jaring) terapung ini selama 45 hari menjadi benih besar yang disebut sangkal berukuran 7 – 8 cm. Ikan berumur tiga bulan ini belum dapat dijual sebagai ikan konsumsi. Karena itu perlu digemukkan lagi dalam kolam terapung yang lebih dalam, berukuran 7 x 7 x 2,5 m. Digemukkan selama 45 hari, para sangkal menjadi ikan konsumsi 250 – 500 g per ekor.

Ikan berumur sekitar empat bulan ini ada yang sudah cukup besar untuk diekspor (500 g) dan ada yang belum (250 g). Perbedaan bobot ini bisa terjadi karena mereka diberi pakan ikan berupa pelet yang disebar di permukaan air, sampai mereka terpaksa berebut. Ada yang selalu menang menyambar pakan dan cepat gemuk, dan ada yang selalu kalah sehingga pertumbuhannya terbelakang.

Mereka yang terbelakang ini digemukkan lebih lanjut dalam kolam terapung selama 45 hari lagi, agar mencapai bobot 500 – 700 g per ekor. Cukup besar sudah, untuk diekspor dalam bentuk fillet ikan beku.

Cara pemeliharaan secara berantai itu kini juga dilakukan oleh para petani ikan yang bukan mitra usaha perusahaan pengekspor fillet nila, tetapi berkongsi sendiri sebagai kelompok agribisnis perikanan. Ada petani ikan yang menangani tugas pemijahan induk saja untuk menghasilkan larva ikan. Ada yang mendedernya menjadi benih 3 – 5 cm saja, ada yang membesarkannya dalam kolam terapung menjadi sangkal 7 – 8 cm, dan ada yang menggemukkannya menjadi ikan konsumsi 250 g. Sampai di sini, hasilnya sudah habis terjual di pasar dalam negeri. Rakyat Indonesia sendiri memang perlu makan ikan yang lezatnya seperti ikan luar negeri (dari dalam negeri). (Slamet Soeseno)

LANGKAH – LANGKAH BUDI DAYA JANGKRIK

Sembari menanti hujan kembali turun, petani bisa memanfaatkan waktu luang musim kemaraunya untuk membudidayakan jangkrik. Budi daya jangkrik yang dikembangkan Asosiasi Jangkrik Indonesia atau Astrik Indonesia bekerja sama dengan IPB mudah dan sederhana. Modal awalnya Rp 1,4 juta untuk membuat kandang dan telur jangkrik. Dalam waktu 35 hari jangkrik sudah bisa dipanen dan memberikan keuntungan Rp 900.000.

Jenis jangkrik yang dibudidayakan adalah jangkrik kalung. Jangkrik kalung mengandung protein, asam amino (sistein untuk antioksidan), asam lemak (omega 3 dan omega 6), hormon (progesteron, estrogen, testosteron) dan kolagen dibanding jenis lainnya. Karenanya, jangkrik kalung banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri farmasi, obat, kosmetik, atau pakan burung dan bahkan makanan manusia.

Berikut ini langkah-langkah budi daya jangrik yang dikembangkan Astrik Indonesia dan IPB.

Membuat kandang

1. Kandang terbuat dari kayu tripleks atau kardus bekas berukuran 100cm x 60cm x 30cm bisa menampung 4.000 ekor jangkrik. Dan kotak ini bisa digunakan 4-5 kali. Atap kandang dilapisi koran atau daun kelapa/daun pisang/daun jati/daun tebu/serabut kelapa.

2. Bahan yang dibutuhkan:

-lakban licin coklat 4 buah

-lem kertas putih 4 buah

-serbuk gergaji 2 plastik

-lis kayu/bambu 40+40

3. Pendukung pertumbuhan atau rumah jangkrik adalah tempat merambat dan nangkring jangkrik berupa empat lengkungan baik besar dan delapan lenkungan kecil yang dibentuk seperti kerangka besi sebuah payung.

Penetasan telur

1. Telur jangkrik dimasukkan ke dalam kain lembab. Telur akan menetas 2-3 hari kemudian. Setiap 400 gram telur akan menghasilkan 80 kg jangkrik umur 35 hari (1 kg jangkrik kurang lebih 1.000 ekor).

2. Bahan yang dibutuhkan:

-Kain tetas 2 buah/dus atau per kandang

-Nampan 2 buah/dus atau per kandang

-Pasir

-Sprayer

-Kertas koran bekas

-Paket telur jangkrik yang berisi telur 400 gram/paket

3. Cara menetaskan:

-Taruh 20 gram telur (1-2 sendok/dus atau per kandang)

-Telur diangin-anginkan terlebih dahulu sekitar 1/2 jam

-Cuci pasir dengan air panas dan letakkan di atas nampan

-Nampan diisi pasir (lembab)

-Siapkan kain tetas dan lembabkan dengan percikan air

-Taruh kain tetas di atas nampan

-Taburkan telur merata di kain tetas

-Tutup telur dengan melipat kain tetas

-Tutup kain tetas dengan kertas koran lembab

-Jaga kelembaban kain tetas (disemprot tiap hari)

Pemeliharaan dan pembesaran

1. Pada proses pembesaran, jangkrik diberi pakan yang cukup baik yaitu pakan pelet buatan Astrik dan sayuran (wortel, gambas, daun katuk, daun pepaya, sawi, dan lainnya).

2. Pemberian sayuran mengikuti ketentuan berikut masa pertumbuhan hari ke-1 sampai ke-10 sebanyak 2 kali/hari, hari ke-11 sampai ke-30 (1 kali/2 hari) dan masa pertumbuhan lebih dari 30 hari tidak diberi pakan sayur.

3. Tahapan pemberian pakan sayuran:

-Cuci dan tiriskan sayuran

-Iris tipis sayuran yang sudah tiris

-Angin-anginkan sekitar lima menit

-Pakai alas lebih baik ketika menganginkan

-Buang sisa sayuran yang tidak dimakan sebelum diganti sebaiknya sore hari

4. Sedangkan untuk minuman diberikan dalam pasir basah

Bahan pakan dan minum

1. Pakan

-Dibutuhkan 6 kg pakan per dus/kandang sampai panen

-Berikan sesuai kebutuhan

-Pakan hendaknya habis tiap hari

-Pemberian pakan dua kali sehari

-Pakan diletakkan di tengah kotak

-Pakai alas lebih baik

-Di atap rumah jangkrik (semprot terlebih dahulu)

-Pakan buatan Astrik diletakkan tipis merata (tidak menggunung)

2. Minum

Masa Pertumbuhan 1-10 hari minuman diberikan di:

-Spon/busa dibasahi dalam wadah/nampan beralas pasir atau kain di tengah kotak

-Semprot atap rumah jangkrik

-Kontrol pakan dua kali sehari

Masa Pertumbuhan lebih dari 10 hari minuman diberikan di:

-Nampan penetasan yang diisi kerikil dan air

-Tambah air kalau kurang

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam budi daya jangkrik kalung:

1. Jangkrik tumbuh kerdil karena bibitnya buruk atau suhu kandang lebih dari 30 derajat C

2. Kanibalisme atau saling memakan antarjangkrik disebabkan kurang makanan/sayur, kurang minum, atau kurang rumah/persembunyian

3. Jangkrik mencret diakibatkan makanan tak teratur dan suhu yang kurang baik.

4. Hati-hati terhadap perangkap yang menyebabkan jangkrik meloloskan diri dan tidak nyaman seperti lakban terbuka, ada lubang lakban, air tergenang, lubang pinggir dinding, dan lubang kecil untuk kabur

5. Penting membersihkan kandang sebelum digunakan

kembali dengan kuas/sikat gigi bekas, semprot dengan larutan sirih atau desinfektan, lalu jemur di sinar matahari langsung selama dua hari

Tahap panen dan pemasaran

Jangkrik bisa dipanen pada umur 35 hari yaitu ketika sudah bersayap. Panenan jangkrik (yang sehat, tidak ada luka atau anggota badan lepas) bisa diantar sendiri ke Bagian Pemasaran Astrik Indonesia. Di Bogor bisa diantar ke Padepokan Jangkrik Gedung AP4, Kampus IPB Darmaga. No telpon yang bisa dihubungi 021-381215, 085217306479, 0811119407, 0811117836.

Tinjauan ekonomi

Dengan modal awal Rp 1,4 juta, petani bisa memulai usaha beternak jangkrik. Modal awal tersebut digunakan untuk kandang, telur, pakan, dan biaya persiapan lainnya (Belum termasuk biaya pengangkutan dan pendampingan):

-Kotak (20 buah) Rp 200.000

-Telur 400 gr Rp 240.000

-Pakan 120 kg Rp 900.000

-Beban oven         Rp    50.000

-Biaya administrasi Rp 10.000

-Total       Rp 1.400.000

Penghitungan keuntungan per 80 kg jangkrik hasil panenan yang dijual Rp 30.000 per kilogram:

-Penjualan 80 kg jangkrik Rp 2.400.000

-Modal Rp 1.400.000

-Biaya pengangkutan satu paket Rp 100.000

-Keuntungan Rp 900.000


Beternak Jangkrik, Kenapa Tidak?

Mencari peluang usaha tanpa harus mengeluarkan dana yang cukup besar, ternyata memang tidak gampang. Apapun itu, semua pasti harus dengan modal.

Mencari peluang usaha tanpa harus mengeluarkan dana yang cukup besar, ternyata memang tidak gampang. Apapun itu, semua pasti harus dengan modal. Namun pendapat itu tidak berlaku bagi para peternak jangkrik (Gyllus testaceus). Cukup dengan modal Rp 1,4 juta, setiap setor jangkrik 80 kilogram (kg), ke Asosiasi Peternak Jangkrik (Astrik), peternak akan menerima uang Rp 2,4 juta.

Dengan modal Rp 1,4 juta itu, satu peternak akan mendapat 10 kotak sarang seharga Rp 10.000 per kotak, telur 4 ons, pakan 120 kg dan beban oven Rp 50.000. Namun sayangnya, peluang ini belum cukup mendapat perhatian, sehingga para pengusaha pakan ternak dan jamu, harus menunggu mendapatkan jangkrik kering atau bubuk dari Astrik.

Ika Nurwidia (23), manager pemasaran Astrik, sempat mengeluh. Dari 700 peternak yang tergabung di asosiasinya, hanya bisa dikumpulkan sekitar 2 ton per minggu. Satu pabrik pakan ternak di Jawa Timur, bisa memesan 50 ton dalam satu minggu. Pengusaha pakan ternak tertarik untuk mengubah pola produksi mereka dengan bahan jangkrik disebabkan oleh mahalnya bahan impor.

Dari pada untuk membeli tepung babi dari luar negeri dengan harga US$ 370 per ton, lebih baik tepung jangkrik yang lebih murah. Dari Astrik, tepung jangkrik hanya dijual Rp 150 juta per ton. Berdasar penelitian ilmiah, jangkrik memiliki kandungan hormon progesterone 105,49 ppm, testoteron 31,78 ppm dan hormon estrogen 259,535 ppm. Bahkan mampu menghasilkan sumber energi 4,87 kalori per gram jauh diatas bahan makanan lainnya.

Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, yang ditunjuk Astrik sebagai Litbang, juga menyelidiki bahwa jangkrik memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Kandungan proteinnya mencapai 57,32 persen. Selain itu si krik-krik ini juga memiliki senyawa kimia seperti asam amino yang sangat dibutuhkan dalam proses pembentukan sel, GSH (glutation) dan berfungsi sebagai antioksidan alami pada tubuh manusia.

Tak ayal lagi, jenis-jenis kandungan bahan itu, membuat jangkrik banyak diburu untuk kepentingan industri baik industri pakan ternak, jamu maupun kosmetik. Sebenarnya pengembangan peternakan jangkrik sudah dimulai sejak tahun 1990-an. Namun waktu itu jangkrik hanya dijadikan komoditas pakan hewan dan dipasarkan di pasar tradisional. Tahun 2000 booming jangkrik sempat terjadi. Sampai-sampai pasar tradisional tidak mampu menampung panenan ribuan peternak jangkrik.

Akibat dari belum tersedianya pasar itu, peternak banyak yang frustasi. Namun bagi Ika Nurwidia dan empat rekannya Ari Hidayat, Fitri Darsini, Pandu dan Bagus Sigit Panuntun, jangkrik adalah permata yang belum digosok. Dan itu terbukti ketika Ika, dengan Astrik membuat gebrakan. Pertama dengan penelitian, kedua dengan mencari pasar, selain pakan burung di pasar tradisional itu.

Pada tahun 2004, jangkrik ini lantas dibudidayakan. Ika Nurwidia dengan empat pelopor Astrik berpatungan Rp 3 juta per orang. Kerja keras itu ternyata membuahkan hasil. Kini permintaan membanjir, bahkan selalu bertambah. Ika menyadari bahwa kemampuan Astrik masih sangat terbatas. ”Tetapi bukan prosesnya, kami siap membeli semua hasil peternak kapan saja. Tapi ya itu, masih kurang banyak sekali,” katanya.

Jangkrik-jangkrik yang dibudidayakan di dalam kotak. Beternak jangkrik ternyata cukup menguntungkan

Tapi jangan salah, asosiasi ini ternyata tidak mau menerima sembarang jangkrik. Ika dan kawan-kawannya, mensyaratkan bahwa peternak yang menjual ke Astrik, harus anggotanya.

Mengapa harus begitu? Ika menjelaskan, Astrik harus memenuhi standar kualitas yang telah ditentukan, misalnya panjangnya minimal 2 cm, berumur tak lebih 40 hari serta harus sehat. Untuk itu, setiap peternak yang menjadi anggota Astrik wajib memberi makanan jangkriknya dengan pakan yang diolah oleh Astrik sendiri. Pakan itu sudah diolah dengan kandungan mineral, protein dan vitamin yang mampu menjaga kesehatan jangkrik.

Selain itu, Astrik pun tak mau menerima jangkrik yang berumur di atas 40 hari. Ternyata cukup beralasan, sebab di umur itu jangkrik dewasa sudah bertelur dan ketika proses pengovenan, jangkrik menjadi kempes. ”Peternak hanya memberi makanan pendamping seperti jagung, kacang hijau, obat antioksidan, dan antibiotik,” kata Ika.

Dikatakan, Astrik akan membeli jangkrik dari anggotanya seharga Rp 30 ribu per kg untuk jangkrik basah, dan jika peternak sudah mampu mengeringkan dengan sistem oven, harga pembelian menjadi Rp 96 ribu per kg. Namun asosiasi ini menjual jangkrik bubuk seharga Rp 150 ribu per kg.

Terkait dengan kurangnya bahan baku itu, Astrik akhirnya bekerja sama dengan Pemda Lamongan, Jawa Timur untuk menambah jumlah peternak. ”Jangan takut, pasar jangkrik masih terbuka luas. Apalagi beberapa rekanan kami, pengusaha jamu di Jawa Barat, masih terus meminta bubuk jangkrik tanpa batas,” ucapnya.

Sambil sedikit berpromosi, Ika dengan Astriknya yang bermarkas di Jalan Pakaryan 5 Yogyakarta itu menyatakan, jangan takut dengan si krik-krik. Peluangnya masih terbuka lebar. ”Sekarang daripada berpangku tangan, meminta pekerjaan, mengapa tidak mencoba. Si krik-krik ini ramah lingkungan. Tidak ada limbah kotoran dan tidak berbahaya,” katanya berpromosi.
Sumber: SP


Usaha Tanpa Modal

November 17, 2008

Percetakan Nota / Undangan Pernikahan/sunatan

Langkah-langkah menjalani usaha ini:

  1. Jangan malu untuk bertanya ketetangga atau kerabat saudara teman dll ada yang mau nikah dalam waktu dekat ini.
  2. Setelah mengetahui ada yang mau nikah datengin dan tawarin bahwa kamu bisa membuatkan undangan,(kalo ada modal Tawarin pembayaran bisa selesai pesta).
  3. Pingin dibuatkan seperti apa undanganya, ini yang menentukan harga.(belum tahu menentukan harga —> tunggu sebentar)
  4. Beraniin mengambil order walaupun belum pernah bikin cetakan nota atau undangan.
  5. setelah dapat order, kamu pergi ke tempat setingan desain kalo ga bias desain n g punya komputer<biasanya tertulis terima setting Grafis dll>
  6. setelah samapai tempat settingan bilang “tolong bikinin setingan seperti ini atau terserah masnya mau dibuat seperti apa yang penting bagus” Harganya kl untuk undangan sekitar Rp. 10.000,-
  7. Dah jadi setingannya terus Diprint pake apa < sablon berarti pake karkir, klo dicetak pake mesin ya pake plat paper (kertas sekitar Rp 6000, Kalo seng 10000,-),jangan lupa beri nama percetakan kamu sendiri apa namanya.
  8. Setinganya dah di print? jelasnya beli kertas undanganya doang kalo mau di cetak pake mesin, kalo mau disablon ya tambah cat tambah ulano, obat sablon dan lain lain.
  9. Gabisa Sablon bos <cari jasa terima sablon> sekita Rp 100,-/lembar/muka, terus belajar cara sablon.
  10. Gapunya Mesin cetaknya <Cari Jasa terima cetakan(percetakan)>Sekitar Rp 10000,-/500lbr/muka/warna. ga usah beli dulu kalo pemula aku aja belum punya doain aja kau entar punya.
  11. kalo dah di cetak tinggal finising (dilipat/dilem/dirapiin/di/di/di).Dah jadi dehhhhhhhhhhh

SUKSES DEHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH

Ini salah satu usaha yang saya lakukan sebagai sambilan sampai saat ini, awalnya  saya hanya mengetahui cara menyablon waktu kuliah pada saat praktek pembuatan PCB/PRC.

Tujuan saya dalam menjalani usaha ini untuk mengisi waktu luang menambah pengasilan , yang bisa untuk usaha tanpa menggangu dengan waktu kerja saya yang utama sebagi karyawan.

mau tahu berapa besar keuntunganya

CONTOHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH

  • Pendapatan dari buat 500 undangan dengan harga Rp 500,- (bentuk cuma satu lebar yang dilipat ukuran undangan 11cmx18cm)

Pendapatan : 500 x Rp 500                                      = Rp. 250.000,-

  • Biaya pembuatan

Seting———————> Rp.   20.000,-

Print setingan 2 lebar———> Rp.  12.000,-

Kertas undangan ————> Rp. 100.000,-   (harga 3000/lbr jadi 15 lbr undangan)

Cetak———————> Rp.    20.00

Plastik undangan (Rp5000/100)->Rp.    25.000,-

kertas label buat nama——–>Rp .   10.000,-

Transport dll—————->Rp.    20.000,-

Total biaya————————————-= Rp. 207.000,-

  • Keuntungan (Rp 250.000 – Rp 187.000)————=Rp. 42.000,-

Keuntungan jika jumlah undangan yang dicetak tambah bayak karena biaya produksi haya menabah biaya kertaas dan cetaknya saja contohnya untk 1000 lebar undangan unag yang diterima Rp 500.000,- dengan biaya produksi sebelumya Rp 207.000 + 100.000(kertas tabah 500 lbr)+20.000(ongkos cetak)=327.000,-

jadi keuntungan Rp. 173.000,-

Untung besar.

ni contoh untuk undangan yang sederhana. yang kebanyakan untuk orang desa desa.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.